LOMBOK, (MINGGU, 15 APRIL 2018) -  Menteri Sosial Idrus Marham tak kuasa menahan haru terhadap anak-anak yang mengalami masalah sosial.  Dalam usia belia, mereka harus menanggung beban berat akibat lingkungan yang tak ramah. 
 
Dalam kunjungannya ke Rumah Sosial  Perlindungan Anak (RPSA) Bumi Gora, Mataram,, Nusa Tenggara Barat (NTB), Mensos mendapati anak-anak dengan berbagai masalah,  di antaranya yang kelahirannya tidak dikehendaki orangtuanya dan ada pula korban kekerasan seksual. 
 
Terhadap pelaku korban perundungan seksual anak, Mensos tidak bisa menutupi kegeramannya. "Pelakunya ini sudah tidak bermoral dan melanggar kemanusiaan.  Ini harus diberi tindakan hukum lebih tegas. Bayangkan ada korban berumur dua tahun, tujuh tahun. Ini tidak bisa dimaafkan. Tapi kita tetap harus berada dalam aturan hukum," kata Mensos, di Mataram, Minggu (15/04/2018). 
 
Mensos hadir didampingi Dirjen Rehabilitasi Sosial Edi Suharto, Dirjen Linjamsos Harry Hikmat dan Direktur Anak Nahar.
 
Kepada anak-anak malang ini,  Mensos bertekad untuk menyelamatkan masa depannya. Dengan jalan, negara harus bisa menjamin kelanjutan pendidikannya.
 
"Mereka harus tetap sekolah. Nanti bagaimana caranya, kita pikirkan bersama. Kalau dari pemerintah daerah bagaimana kemampuannya. Kalau tidak ya dari Kementerian Sosial," kata Mensos.
 
Dalam kunjungan ini, Mensos mengapresiasi pengabdian para pimpinan, staf, dan pekerja sosial di lingkungan Panti Sosial Mardi Pertiwi (PSMP) Paramita.  Menurut Mensos, mereka adalah pejuang-pejuang kemanusiaan.
 
Kunjungan kerja diawali dengan melihat fasilitas RPSA Bumi Gora dan berinteraksi langsung dengan penerima manfaat. Mensos berpesan bahwa manusia harus selalu pasrah kepada Allah SWT, karena tidak ada satupun diantara kita yang ingin menerima masalah, masalah ini terjadi karena takdir. 
 
Mensos mengajak semua pihak lebih menatap masa depan. Oleh sebab itu Idrus menyebutkan bahwa RPSA sebagai rumah masa depan. "Di sini, kalian semua mencoba keluar dari masalah dan menjemput masa depan," katanya.
 
RPSA Bumi Gora  berkapasitas 50 orang. Saat ini diisi 19 klien dengan lima di antaranya masih bayi.  Sebanyak. 800 orang
 
Satuan Bhakti Pekerjaan Sosial (Sakti Peksos) bekerja mendampingi para klien, bahkan bila sampai ke ranah hukum. 
 
 
*BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT KEMENTERIAN SOSIAL RI*
Kategori: 
Penulis: 
Koesworo