Jakarta (27/11) - Kementerian Sosial memprioritaskan pemenuhan kebutuhan logistik guna melayani pengungsi akibat erupsi Gunung Agung, Bali. Sebanyak 11 mobil dapur umum lapangan disiapkan Kemensos di tujuh Kabupaten/Kota masing-masing Tabanan, Buleleng, Denpasar, Klungkung, Karangasem, Gianyar, dan Bangli.

"Prioritas utama tetap pemenuhan kebutuhan logistik pengungsi. Rata-rata setiap dapur umum mampu menyediakan 1000 - 2000 bungkus makanan selama tiga kali sehari," ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, di Jakarta, Senin (28/11).

Khofifah memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) cukup untuk memenuhi kebutuhan semua pengungsi Gunung Agung. Saat ini pemerintah memiliki sebanyak 278 ribu ton beras. Khofifah mengatakan, hingga kemarin, Minggu (27/11) jumlah pengungsi yang terdata ada sebanyak 23.737 jiwa yang tersebar di 224 titik.

Kementerian Sosial juga telah mendirikan tenda-tenda pengungsian sejak September lalu. Namun demikian, para pengungsi lebih memilih tinggal di bale banjar. Sehingga tenda lebih banyak digunakan untuk menyimpan logistik dan trauma healing kolektif terutama bagi anak-anak.

Untuk membantu menangani gelombang pengungsi Gunung Agung, lanjut Khofifah, Kementerian Sosial juga telah menerjunkan 396 orang Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang berdomisili di Bali.

"Selain Tagana dari Provinsi Bali, juga disiagakan Tagana dari provinsi lain terdekat antara lain Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Total ada sebanyak 718 Tagana yang disiapkan," terang Khofifah

Tagana, lanjut dia, selain bertugas memenuhi kebutuhan permakanan pengungsi juga memberikan terapi psikososial, pelayanan konseling, dan psikoedukasi kepada pengungsi yang mengalami trauma. Utamanya kepada mereka yang berketegori kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, difabel, dan ibu hamil.

"Ada tiga titik Posko LDP yang disiapkan yaitu di Klungkung, Buleleng, dan Karangasem," imbuhnya.

Kepada para pengungsi, Khofifah juga menghimbau untuk terus menggunakan masker guna mengurangi dampak resiko akibat guyuran abu vulkanik Gunung Agung. Menurutnya, tebalnya abu vulkanik yang keluar dari Gunung Agung dapat mengakibatkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Jangan mendekati zona merah . Tetap waspada dan patuhi batas-batas yang telah ditetapkan petugas di lapangan," imbuhnya.

Seperti diketahui, Gunung Agung di Kabupaten Karangasem meletus, Sabtu (24/11). Gunung setinggi 3.142 Mdpl itu terus mengeluarkan asap tebal dengan ketinggian mencapai lebih dari 2500 - 3000 meter dari permukaan kawah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung dari level III (siaga) menjadi level IV (awas). Kenaikan status ini diumumkan oleh Kabid Mitigasi PVMBG I Gede Suantika pada Senin (27/11). (*)

*Biro Hubungan Masyarakat*
*Kementerian Sosial RI*

Tanggal Posting: 
Senin, 27 November, 2017 - 18:45
Penulis: 
riafakhriah