Mojokerto (22/10) - Sukma (9 Th) adalah siswi kelas 4 Sekolah Dasar, ia tinggal bersama ibu (Bu Siti, 40 Th) dan kakaknya (Sahrul, 14 Th) di Desa Sumberwono Kecamatan Bangsal, Mojokerto, Jawa Timur, kakak pertama Sukma (Desi, 19 Th) sedang menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Surabaya. Ayah Sukma telah meninggal dunia sejak tahun 2013, Ibu kini menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Ibu Siti bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan Rp.650.000,- per bulan dan menjadi pengasuh anak dengan penghasilan Rp.600.000,-, Bu Siti mengasuh anak pengajar karate Sukma oleh karenanya biaya kursus karate untuk Sukma dan kakaknya digratiskan.

PKH Mendukung Prestasi di Kejuaraan Karate

Pada tahun 2013 ayah Sukma meninggal dunia karena sakit, sebelumnya beliau bekerja sebagai analis kredit di Bank BCA Sidoarjo, karena memutuskan pindah rumah ke Mojokerto, akhirnya ayah Sukma keluar dari pekerjaannya dan berjualan bakso. Sepeninggal ayahnya, ibu Sukma lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Sejak tahun 2008, keluarga ini memperoleh PKH, disampaikan oleh Ibu Sukma (Bu Siti), bahwa keluarganya sangat terbantu dengan PKH, hingga beliau berani untuk menguliahkan anak pertama nya, “PKH ini alhamdulillah sangat membantu, sampai saya berani menguliahkan anak karena uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan anak-anak yang sd dan smp, jadi nabungnya untuk kakaknya”.

Anak kedua dan ketiga Bu Siti yaitu Sahrul dan Sukma adalah atlit karate. Sahrul beberapa kali meraih juara 2 dan 3 Kejurda se-Jawa Timur, juara 3 Kejurnas Piala Walikota, juara 1 Kejurda se-Kota dan Kabupaten Mojokerto. Prestasi yang sama juga diukir oleh Sukma, dengan meraih juara 3 Kejurnas, Juara 1 Kejuaraan Karate se-Kabupaten Tulungagung, juara 1 Kejurda se-Jawa Timur, Juara 1 Piala Koni se-Kabupaten Mojokerto dan Juara 1 Kejuaraan se-Kabupaten Jombang. Sahrul dan Sukma sering mengikuti kejuaraan di beberapa kota, untuk biaya pendidikan kedua anak selama ini gratis, sehingga bantuan PKH digunakan untuk biaya transport anak menuju lokasi kejuaraan dan pemenuhan nutrisi, seperti yang disampaikan Bu Siti berikut, “bantuan dipakai buat yang mana yang perlu dulu, kalo pertandingan luar kota biayanya banyak, kalo gak ada uang ya gak saya ikutkan dulu, mana yang buat sekolah dulu, soalnya sekolahnya kan gratis, jadi uang PKH bisa untuk pertandingan, transport”.

Penyaluran PKH Non Tunai Lebih Praktis

Masa peralihan penyaluran PKH dari tunai ke non tunai juga dialami oleh Bu Siti, baginya penyaluran bantuan non tunai dengan menggunakan atm membuatnya tidak perlu berdesakan untuk mendapatkan giliran pengambilan dan sewaktu-waktu dapat diambil jika perlu sehingga menurutnya lebih praktis, seperti pernyataan beliau berikut, “kalau non tunai ngambilnya gak desek desekan, terus lek tunai kan antri, ke kantor pos kecamatan bangsal, ngambilnya gak bareng-bareng, sewaktu waktu bisa ambil kalau perlu, jadi praktis gitu”.

Belajar Pengasuhan Anak dari P2K2

Pertemuan bulanan kelompok atau Family Development Session (FDS) dilakukan di rumah ketua kelompok, pendamping memberikan berbagai materi, yang sering dibahas menurut Bu Siti adalah tentang pola pengasuhan anak, beliau banyak belajar tentang bagaimana strategi mengasuh anak yang tepat dengan perbedaan sifat ketiga anaknya. Bu Siti belajar banyak berdialog dengan Sahrul yang berkarakter keras dan banyak mulai menstimulasi cerita kepada Desi dan Sukma yang pendiam, hal ini dituturkan Bu Siti sebagai berikut, “pertemuannya biasanya di rumah ketua kelompok, kan ada bukunya itu, belajar cara ngadepi anak yang sulit, alhamdulillah sedikit-sedikit dipraktekkan, kalo kakaknya (sahrul) lebih keras harus sabar aja banyak diajak ngomong, kalo sukma dan desi kan semangat, waktunya ngaji latihan, tapi kalo desi dan sukma harus dipancing biar cerita seharian ngapain aja kalo enggak diam aja”.

Bu Siti juga menjadi sadar bahwa membimbing anak mengatur waktu hariannya adalah hal penting agar anak bisa membagi waktu antara istiharat, belajar, mengaji dan berlatih, “mereka pulangnya setengah 1, habis itu jam 3 ngaji, jam 4 latihan sampe jam 17.30, saya yang nganter kesana, saya bantu ngatur waktu anak-anak biar gak berantakan”. Termasuk untuk pengaturan nutrisi anak yang memiliki aktivitas fisik yang tinggi, dalam pertemuan kelompok, pendamping PKH juga menularkan informasi tentang bagaimana mengatur gizi bagi keluarga, Bu Siti menerapkan disiplin terhadap Sahrul dan Sukma untuk pola makan yaitu dengan gizi seimbang walaupun ditengah keterbatasan ekonomi, dan menghindari makanan-makanan yang justru menurunkan kesehatan anak seperti sambal dan ice cream, seperti yang disampaikan Bu Siti berikut, “saya bantu menjaga gizi anak-anak walaupun seadanya, kadang telur tempe tahu, kalo atlit kan gak boleh makan sambel dan es, sebulan sekali kan dilatih fisik, kadang dilatih lari, kalo habis makan sambel atau es ketauan sama pelatihnya karena bikin males dan cepet cape, kliatan gak maksimal, pokoknya karate itu fisik dan mental kuat”. (OHH/Linjamsos)

Ditulis oleh : Dini Fajar Yanti

Tanggal Posting: 
Jumat, 3 November, 2017 - 07:30
Penulis: 
riafakhriah