Mojokerto (3/11) - Bu Wiwik (41 Th) adalah salah satu Kelurga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) asal Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Bu Wiwik dan suaminya membuat cobek dari tanah liat dan menjualnya keliling kampung. Keuntungan dari usaha membuat cobek pasangan suami istri ini jauh dari kata layak, untuk cobek kecil dihargai Rp. 1.000,- dengan keuntungan Rp.200,- ; cobek sedang dihargai Rp.1.500,- dengan keuntungan Rp.300,- ; dan cobek besar dihargai Rp.2.000,- dengan keuntungan Rp.500,-. Bu Wiwik menyampaikan bahwa cobek buatannya sebetulnya bisa dijual ke pasar agar mendapat harga yang lebih tinggi, namun keterbatasan modal membuatnya belum mampu menyewa lapak untuk berjualan di pasar.

PKH Mendukung Ketiga Anak Saya Meraih Prestasi Terbaik

Ketiga anak Bu Wiwik memperoleh PKH sejak tahun 2007 dan ketiganya merupakan anak-anak yang berprestasi di kelas dan kerap memenangkan berbagai perlombaan hingga tingkat provinsi. Anak pertama, Fahmi (21 Th), sedang menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan beasiswa Bidik Misi. Sejak duduk di bangku sekolah, Fahmi kerap mengikuti berbagai kejuaraan diantaranya futsal, lomba takbir tingkat kabupaten, lomba Olimpiade Matematika hingga babak semifinal dan juara II Musikalitas Puisi, hingga di bangku kuliah, Fahmi menjadi mahasiswa terbaik di jurusannya. Anak kedua, Zaki (18 Th), memperoleh hadiah senilai Rp.250.000,- dari Bank BNI pada acara Peluncuran EDC Offline di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pecet, Mojokerto, Zaki kerap mendapat peringkat 1- 3 sejak duduk di bangku sekolah dasar. Diluar kelas pun Zaki kerap memenangkan berbagai lomba diantaranya Juara Harapan II dan Semifinal Olimpiade (Matematika, Fisika, Keperawatan dan Statistika) Tingkat Kabupaten, Juara III Cerdas Cermat Tingkat Kabupaten, Juara II Debat Pendidikan Agama Islam Tingkat Provinsi Jawa Timur dan yang terakhir adalah Juara 1 Lomba Matematika OSN Tingkat Nasional Tahun 2017.

Zaki merasa sangat terbantu terutama untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang baik dan untuk uang transport saat mengikuti lomba. Ia sempat mengikuti Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) sehingga mendapatkan beasiswa senilai Rp.1.500.000,-, uang ini digunakannya untuk mendaftar ke sekolah favorit di kota nya, walaupun pada awalnya ia merasa minder karena sekolah ini dikenal merupakan sekolah anak-anak dari keluarga “berada” dan ada kekhawatiran tidak mampu membayar kelanjutan pendidikannya, seperti yang disampaikan Zaki berikut, ”dulu sempet ikut program dapat uang tabungan 1,5 juta, buat tambahan daftar sekolah, gak pake seleksi persyaratan pake kartu PKH, awalnya minder, temen-temennya anak orang kaya, takut gak punya teman, kenyataan enggak, waktu masuk, seterusnya spp gratis”. Zania (16 Th) , si bungsu pun seperti kedua kakaknya, kerap menjadi juara kelas dan memenangkan berbagai perlombaan pidato, puisi, cerpen dan Olimpiade Ekonomi.

Saya Kenal ATM Melalui PKH

Bu Wiwik mengaku mengenal kartu ATM dan Bank sejak pergeseran bantuan PKH dari tunai ke non tunai tahun 2017, ia menyatakan tidak kesulitan yang berarti dalam bertransaksi karena diajari oleh anak pertama nya, sebelumnya ia menyimpan uang di rumah saja. Dengan bantuan non tunai melalui Bank, Bu Wiwik merasa bisa lebih berhemat karena mengambil uang hanya saat dibutuhkan saja, tidak seperti sebelumnya saat masih menyimpan uang di rumah karena lebih sering terpakai untuk hal-hal diluar kebutuhan anak-anak, seperti pertanyaan beliau berikut, “enggak ada kesulitan, sebelumnya enggak bisa, ini pertama kali punya ATM, diajari anak-anak, yang besar dapat ATM Perguruan Tinggi Negeri dari UNESA jadi anak-anak yang ngasih tau, diarahin, sekarang masih belum berani, enak yang pake ATM karena uangnya gak di rumah, kalo pake ATM kan kalo ada perlu baru diambil, kalo di rumah kan nanti kepake dulu, biar bisa hemat, sekarang akhirnya kenal bank”.

P2K2 Mengajarkan Cara Mengelola Keuangan dan Pengasuhan Terbaik Bagi Anak

Pertemuan Peningkatan Kapasitas Keluarga (P2K2) atau dikenal dengan Family Development Session (FDS) selalu diikuti oleh Bu Wiwik, ia menceritakan dalam pertemuan kelompok tersebut selalu diberikan sosialisasi dengan materi yang bervariasi, diantaranya soal pendidikan, kesehatan, cara mengelola keuangan dan sebagainya. Pendamping menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh Bu Wiwik, beberapa materi sudah dipraktekan diantaranya tentang cara mengelola keuangan yang baik dan model pengasuhan terbaik untuk anak. Bu Wiwik belajar cara mengelola keuangan dengan membuat prioritas kebutuhan dan menabung, disampaikan sebagai berikut, “pertemuan satu bulan sekali di kelompok, gantian, dikasih tau soal pendidikan, kesehatan, menabung, usaha, mengelola uang biar gak boros, bahasa pendamping itu mudah dipahami dengan bahasa yang sederhana, saya praktek hari-hari di rumah yang penting diduluin, biar gak pengeluaran terlalu banyak, makan sederhana, diambil yang penting-penting dulu”.

Cara pengasuhan yang baik untuk anak-anak juga dipraktekkan oleh Bu Wiwik di rumah, model pengasuhan yang demokratis dengan banyak berdialog dengan anak dipilih oleh Bu Wiwik dan suami dalam mengasuh anak-anaknya. Selain memberikan motivasi untuk semangat bersekolah kepada anak, Bu Wiwik dan suami sering menyelipkan pesan-pesan kehidupan untuk anaknya misal tentang konsekuensi-konsekuensi anak dapatkan jika melakukan hal buruk tertentu pada saat makan atau sambil menonton televisi, berikut penuturan beliau, “anak-anak sudah terlahir baik mungkin, gak pernah ngerepotin, mandiri semua, saya gak pernah marah sama anak, saya suka ngobrol sama anak-anak diskusi sambil nonton tv, anak bisa leluasa cerita, kalo gini hasilnya gini”. (OHH/Linjamsos)

Ditulis oleh : Dini Fajar Yanti

Tanggal Posting: 
Jumat, 3 November, 2017 - 07:45
Penulis: 
riafakhriah